2 Manusia Super di Jembatan Setiabudi


Written on October 28, 2008 – 5:39 am | by otezz

Tanpa disadari terkadang sikap apatis menyertai saat langkah kaki mengarungi tuk coba taklukkan ibukota negri ini. Semoga kita selalu diingatkan.

Sekedar berbagi cerita di forum orang orang super dalam keindahan hari ini :

Siang ini February 6, 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi, dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan “Terima kasih Oom !”. Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan Cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.

Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan .

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta.

“Terima kasih ya mbak. Semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka, tak lama siwanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

“Maaf , nggak ada kembaliannya ..ada uang pas nggak mbak ?” mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

“Oom boleh tukar uang nggak , receh sepuluh ribuan ?” suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah.

“Nggak punya, tukas saya !” lalu tak lama siwanita berkata “Ambil saja kembaliannya , dik !” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Siwanita kaget, setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja , nggak apa..apa ambil saja !”, namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. ” maaf mbak , Cuma ada empat ribu , nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan !” Akhirnya uang itu diterima siwanita karena sikecil pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. mereka menghampiri saya dan berujar ” Om , bisa tunggu ya , saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !”.

” eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !” saya kasih uang itu ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya , ” Nanti dulu Om , biar ditukar dulu ..sebentar ” ” Nggak apa apa , itu buat kalian ” Lanjut saya ” jangan ..jangan Om , itu uang om sama mbak yang tadi juga ” anak itu bersikeras ” Sudah ..saya Ikhlas , mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat , secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.

” Ini deh om , kalau kelamaan , maaf ..” ia memberi saya delapan pack tissue ” Buat apa ?” saya terbengong
”habis teman saya lama sih Om , maaf , tukar pakai tissue aja dulu ” walau dikembalikan ia tetap menolak .
Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona mukanya . Saya kalah set , ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya . Beberapa saat saya mematung di sana , sampai sikecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu , dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

“Terima kasih Om , !”..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan ” Duit mbak tadi gimana ..? ” suara kecil yang lain menyahut ” lu hafal kan orangnya , kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin …” percakapan itu sayup sayup menghilang , saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.

Tuhan ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super , kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh , mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra , mereka tahu hak mereka dan hak orang lain , mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang Tissue.

Dua anak kecil yang bahkan belum baligh , memiliki kemuliaan diumur mereka yang begitu belia.

YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO

Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.

MT

Source : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=981783

Seandainya..


Written on July 25, 2008 – 11:17 pm | by otezz

Seandainya hatimu adalah sebuah system…
Maka aku akan scan kamu untuk mengetahui port mana yang terbuka Sehingga tidak ada keraguan saat aku c:\> nc -l -o -v -e ke hatimu,tapi aku hanya berani ping di belakang anonymouse proxy, inikah rasanya jatuh cinta sehingga membuatku seperti pecundang atau aku memang pecundang sejati whatever!

Seandainya hatimu adalah sebuah system…
Ingin rasanya aku manfaatkan vulnerabilitiesmu, pake PHP injection. Terus aku ls -la; find / -perm 777 -type d,sehingga aku tau kalo di hatimu ada folder yang bisa ditulisi atau adakah free space buat aku?. apa aku harus pasang backdor “Remote Connect-Back Shell”jadi aku tinggal nunggu koneksi dari kamu saja, biar aku tidak merana seperti ini.

Seandainya hatimu adalah sebuah system…
Saat semua request-ku diterima aku akan nogkrong terus di bugtraq untuk mengetahui bug terbarumu maka aku akan patch n pacth terus, aku akan jaga service-mu jangan sampai crash n aku akan menjadi firewallmu aku akan pasang portsentry, dan menyeting error pagemu ” The page cannot be found Coz Has Been Owned by Someone get out!” aku janji gak bakalan ada macelinious program atau service yang hidden, karena aku sangat sayang dan mencintaimu.

Seandainya hatimu adalah sebuah system…
jangan ada kata “You dont have permission to access it” untuk aku, kalau ga mau di ping flood Atau DDos Attack jangan ah….! kamu harus menjadi sang bidadari penyelamatku.

Seandainya hatimu adalah sebuah system, …?

Tapi sayang hatimu bukanlah sebuah system,
kamu adalah sang bidadari impianku, yang telah mengacaukan systemku!
Suatu saat nanti aku akan datang n mengatakan kalau di hatiku
sudah terinfeksi virus yang Menghanyutkan, Ga ada anti virus yang
dapat menangkalnya selain …kamu.

Otezz.Net IS Oficially Launched


Written on January 12, 2007 – 3:08 am | by otezz

Today is Tuesday, January 9th 2007 and otezz.net
is officially launched. This is my personal site actually, but I want
to share fun with everyone who visit my site. I will update this site
periodically so you can have a great time while you’re on my site. You
can start by playing my Free Online Games.

So, don’t wait, Join today ! www.otezz.net

Segala yang Berputar akan Selalu Berputar


Written on November 25, 2006 – 3:31 am | by otezz

Bryan hampir saja tidak melihat wanita tua yang berdiri dipinggir jalan itu, tetapi dalam cahaya berkabut ia dapat melihat bahwa wanita tua itu  membutuhkan pertolongan. Lalu ia menghentikan mobil Pontiacnya di depan mobil Mecedes wanita tua itu, lalu ia keluar dan menghampirinya.

Walaupun dengan wajah tersenyum wanita itu tetap merasa khawatir, karena setelah menunggu beberapa jam tidak ada seorang pun yang menolongnya.

Apakah lelaki itu bermaksud menyakitinya?

Lelaki tersebut penampilanya tidak terlalu baik, ia kelihatan begitu memprihatinkan. Wanita itu dapat merasakan kalau dirinya begitu ketakutan, berdiri sendirian dalam cuaca yang begitu dingin, sepertinya lelaki tersebut tahu apa yang ia pikirkan.

Lelaki itu berkata " saya kemari untuk membantu Anda Bu, kenapa Anda tidak menunggu didalam mobil bukankah di sana lebih hangat? Oh ya nama saya Bryan."

Bryan masuk kedalam kolong mobil wanita itu untuk memperbaiki yang rusak. Akhirnya ia selesai, tetapi dia kelihatan begitu kotor dan lelah.

Wanita itu membuka kaca jendela mobilnya dan berbicara kepadanya, ia berkata bahwa ia dari St Louis dan kebetulan lewat jalan ini. Dia merasa tidak cukup kalau hanya mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan.

Wanita itu berkata berapa yang harus ia bayar, berapapun jumlahnya yang ia minta tidak menjadi masalah, karena ia membayangkan apa yang akan terjadi jika lelaki tersebut tidak menolongnya. Bryan hanya tersenyum.

Bryan tidak mengatakan berapa jumlah yang harus dibayar, karena baginya menolong orang bukanlah suatu pekerjaan. Ia yakin apabila menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan tanpa suatu imbalan suatu hari nanti TUHAN pasti akan membalas amal perbuatanya.

Ia berkata kepada wanita itu, bila ia benar-benar ingin membalas jasanya, maka apabila suatu saat nanti apabila ia melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan maka tolonglah orang tersebut "…dan ingatlah pada saya".

Bryan menunggu sampai wanita itu menstater mobilnya dan menghilang dari pandangan.

Setelah berjalan beberapa mil wanita itu melihat kafe kecil, lalu ia mampir kesana untuk makan dan beristirahat sebentar. Pelayan datang dan memberikan handuk bersih untuk mengeringkan rambutnya yang basah.

Wanita itu memperhatikan sang pelayan yang sedang hamil, dan masih begitu muda. Lalu ia teringat kepada Bryan

Setelah wanita itu selesai makan dan, sang pelayan sedang mengambil kembalian untuknya, wanita itu pergi keluar secara diam-diam.

Setelah kepergiannya sang pelayan kembali, pelayan itu bingung kemana wanita itu pergi, lalu ia menemukan secarik kertas diatas meja dan uang $1000. Ia begitu terharu setelah membaca apa yang ditulis oleh wanita itu: "Kamu tidak berhutang apapun pada saya karena seseorang telah menolong saya, oleh karena itulah saya menolong kamu, maka inilah yang harus kamu lakukan: "Jangan pernah berhenti untuk memberikan cinta dan kasih sayang".

Malam ketika ia pulang dan pergi tidur, ia berfikir mengenai uang dan apa yang di tulis oleh wanita itu.

Bagaimana wanita itu bisa tahu kalau ia dan suaminya sangat membutuhkan uang untuk menanti kelahiran bayinya?

Ia tahu bagaimana suaminya sangat risau mengenai hal ini, lalu ia memeluk suaminya yang terbaring disebelahnya dan memberikan ciuman yang lembut sambil berbisik :"Semuanya akan baik-baik saja, Saya mencintaimu, Bryan"

"Segala sesuatu yang berputar akan selalu berputar, therefore, don’t ever to stop to do good things in your life..

Kopi Asin


Written on November 24, 2006 – 4:50 am | by otezz

Dia bertemu dengan gadis
itu di sebuah pesta, gadis yang menakjubkan. Banyak pria berusaha
mendekatinya. Sedangkan dia sendiri hanya seorang laki-laki biasa. Tak
ada yang begitu menghiraukannya. Saat pesta telah usai, dia mengundang
gadis itu untuk minum kopi bersamanya. Walaupun terkejut dengan
undangan yang mendadak, si gadis tidak mau mengecewakannya.

Mereka berdua duduk di sebuah kedai kopi yang nyaman. Si laki-laki
begitu gugup untuk mengatakan sesuatu, sedangkan sang gadis merasa
sangat tidak nyaman. "Ayolah, cepat. Aku ingin segera pulang", kata
sang gadis dalam hatinya.

Tiba-tiba si laki-laki berkata pada pelayan, "Tolong ambilkan saya
garam. Saya ingin membubuhkan dalam kopi saya." Semua orang memandang
dan melihat aneh padanya. Mukanya kontan menjadi merah, tapi ia tetap
mengambil dan membubuhkan garam dalam kopi serta meminum kopinya.

Sang gadis bertanya dengan penuh rasa ingin tahu kepadanya, "Kebiasaanmu kok sangat aneh?".

"Saat aku masih kecil, aku tinggal di dekat laut. Aku sangat suka
bermain-main di laut, di mana aku bisa merasakan laut… asin dan
pahit. Sama seperti rasa kopi ini", jawab si laki-laki. "Sekarang, tiap
kali aku minum kopi asin, aku jadi teringat akan masa kecilku, tanah
kelahiranku. Aku sangat merindukan kampung halamanku, rindu kedua
orangtuaku yang masih tinggal di sana", lanjutnya dengan mata
berlinang.

Sang gadis begitu terenyuh. Itu adalah hal sangat menyentuh hati.
Perasaan yang begitu dalam dari seorang laki-laki yang mengungkapkan
kerinduan akan kampung halamannya. Ia pasti seorang yang mencintai dan
begitu peduli akan rumah dan keluarganya. Ia pasti mempunyai rasa
tanggung jawab akan tempat tinggalnya. Kemudian sang gadis memulai
pembicaraan, mulai bercerita tentang tempat tinggalnya yang jauh, masa
kecilnya, keluarganya… Pembicaraan yang sangat menarik bagi mereka
berdua. Dan itu juga merupakan awal yang indah dari kisah cinta mereka.

Mereka terus menjalin hubungan. Sang gadis menyadari bahwa ia adalah
laki-laki idaman baginya. Ia begitu toleran, baik hati, hangat, penuh
perhatian… pokoknya ia adalah pria baik yang hampir saja diabaikan
begitu saja. Untung saja ada kopi asin !

Cerita berlanjut seperti tiap kisah cinta yang indah: sang putri
menikah dengan sang pangeran, dan mereka hidup bahagia… Dan, tiap ia
membuatkan suaminya secangkir kopi, ia membubuhkan sedikit garam
didalamnya, karena ia tahu itulah kesukaan suaminya.

Setelah 40 tahun berlalu, si laki-laki meninggal dunia. Ia meninggalkan
sepucuk surat bagi istrinya: "Sayangku, maafkanlah aku. Maafkan
kebohongan yang telah aku buat sepanjang hidupku. Ini adalah
satu-satunya kebohonganku padamu— tentang kopi asin. Kamu ingat kan
saat kita pertama kali berkencan? Aku sangat gugup waktu itu.
Sebenarnya aku menginginkan sedikit gula. Tapi aku malah mengatakan
garam. Waktu itu aku ingin membatalkannya, tapi aku tak sanggup, maka
aku biarkan saja semuanya. Aku tak pernah mengira kalau hal itu malah
menjadi awal pembicaraan kita. Aku telah mencoba untuk mengatakan yang
sebenarnya kepadamu. Aku telah mencobanya beberapa kali dalam hidupku,
tapi aku begitu takut untuk melakukannya, karena aku telah berjanji
untuk tidak menyembunyikan apapun darimu… Sekarang aku sedang
sekarat. Tidak ada lagi yang dapat aku khawatirkan, maka aku akan
mengatakan ini padamu: Aku tidak menyukai kopi yang asin. Tapi sejak
aku mengenalmu, aku selalu minum kopi yang rasanya asin sepanjang
hidupku. Aku tidak pernah menyesal atas semua yang telah aku lakukan
padamu. Aku tidak pernah menyesali semuanya. Dapat berada disampingmu
adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Jika aku punya kesempatan
untuk menjalani hidup sekali lagi, aku tetap akan berusaha mengenalmu
dan menjadikanmu istriku walaupun aku harus minum kopi asin lagi."

Sambil membaca, airmatanya membasahi surat itu. Suatu hari seseorang
menanyainya, "Bagaimana rasa kopi asin?", ia menjawab, "Rasanya begitu
manis."

Janji Pertemuan


Written on November 24, 2006 – 4:48 am | by otezz

Jam enam kurang enam menit, kata jam bundar
besar diatas meja informasi di Grand Central Station. Letnan Angkatan
Darat bertubuh jangkung dan muda usia yang baru datang dari arah rel
kereta mengangkat wajahnya yang tebakar matahari, dan matanya memicing
untuk melihat waktu yang tepat. Jantungnya berdebar keras sehingga
mengejutkannya karena ia tak dapat mengendalikannya. Enam menit lagi,
ia akan bertemu dengan wanita yang telah mengisi tempat istimewa dalam
hidupnya selama 13 bulan ini, wanita yang belum pernah ia lihat, tapi
yang kata-kata tertulisnya telah menemaninya dan senantiasa menabahkan
hatinya. Ia berdiri sedekat mungkin ke meja informasi, sedikit di luar
lingkaran orang yang mengerumuni petugas.

Letnan Blandford teringat suatu malam tertentu, saat pesawatnya
terperangkap di tengah sekelompok kaum Zero. Ia melihat wajah salah
seorang pilot musuh yang menyeringai. Dalam salah satu suratnya, ia
mengakui pada sahabat penanya bahwa ia seing merasa takut, dan hanya
beberapa hari sebelum pertempuran ini, ia menerima jawaban surat
darinya: "Tentu saja kamu takut.. semua pria pemberani pun begitu.
Bukankah Raja Daud juga mengenal takut? Karena itulah dia menulis
Mazmur 23. Lain kali, saat kamu meragukan dirimu, aku ingin kamu
mendengar suaraku membacakan ini untukmu "Sekalipun aku berjalan dalam
lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku". Dan
ia ingat; ia mendengar khayalan suaranya, dan suara itu memperbaharui
kekuatan dan keterampilannya.

Sekarang ia akan mendengar suara aslinya. Pukul enam kurang empat.
Wajahnya semakin tegang. Di bawah atap luas berbintang, orang berjalan
bergegas, seperti benang-benang berwarna dianyam ke dalam jaring-jaring
kelabu. Seorang gadis mendekatinya, dan Letnan Blandford tersentak.
Gadis ini memakai sebuah bunga merah pada kelepak jasnya, tapi bunganya
adalah bunga buncis merah, bukan mawar merah kecil yang sudah mereka
sepakati. Lagipula, gadis itu terlalu muda, sekitar 18, sedangkan
Hollis Meynell sudah sejujurnya mengatakan bahwa ia berumur 30.

"Memangnya kenapa?" ia menjawab waktu itu. "Aku 32." Padahal, usianya baru 29.

Pikirannya kembali pada buku-buku itu yang pasti ditaruh sendiri oleh
Tuhan ke dalam tangannya dari antara ratusan buku perpustakaan Angkatan
Darat yang dikirim ke kamp latihan Florida. Of Human Bondage, judulnya;
dan di seluruh buku itu ada catatan yang ditulis dengan tulisan wanita.
Ia selalu membenci kebiasaan mencoret-coret buku, tapi kata-kata ini
berbeda. Ia tak pernah menyangka bahwa seorang wanita dapat memandang
ke dalam hati seorang pria dengan begitu lembut, begitu pengertian.
Namanya ada pada sampul: Hollis Meynell.

Ia mencari buku telepon New York City dan menemukan alamatnya. Ia
menyuratinya, dan wanita itu membalas. Hari berikutmya ia dikirim
pergi, tapi mereka melanjutkan surat-menyurat. Selama 13 bulan, wanita
itu dengan setia membalas, dan lebih dari sekedar membalas. Saat surat
si letnan tidak tiba, wanita itu tetap menulis dan sekarang si letnan
yakin bahwa ia mencintai wanita itu dan wanita itu mencintainya.

Tapi, wanita itu menolak semua permintaannya untuk mengirimkan fotonya. Tentu saja hal tersebut kurang baik.

Tapi ia menjelaskan : "Kalau perasaanmu terhadapku sungguh-sungguh,
berdasarkan ketulusan hati, wajahku tidak akan menjadi masalah.
Misalnya aku memang cantik. Aku akan selalu dihantui perasaan bahwa
kamu mengambil keputusan berdasarkan hal itu, dan cinta semacam itu
membuatku jijik. Misalkan aku biasa-biasa saja (dan kamu harus mengakui
bahwa ini lebih mungkin). Lalu aku akan selalu cemas bahwa kamu terus
menyuratiku karena kamu kesepian dan tak punya orang lain. Jangan,
jangan minta fotoku. Kalau kamu datang ke New York, kamu bisa
menemuiku, lalu kamu dapat mengambil keputusan. Ingat, kita berdua
bebas untuk menghentikan atau melanjutkan persahabatan kita-apa pun
yang kita pilih."

Pukul enam kurang satu - hati Letnan blandford meloncat lebih tinggi
dari yang pernah dilakukan pesawatnya. Seorang wanita muda melangkah ke
arahnya. Tubuhnya tinggi dan ramping; rambut pirangnya mengikal dari
telinganya yang indah. Matanya biru bagai bunga, bibir dan dagunya
memiliki ketegasan yang lembut. Dalam pakaian hijau pucat, ia seperti
penjelmaan masa musim semi. Ia melangkah ke arah wanita itu,
benar-benar lupa melihat bahwa si wanita tidak memakai bunga mawar, dan
saat ia bergerak, sebuah senyuman kecil menantang melengkungkan
bibirnya.

"Awas tertabrak, bung?" gumannya.

Dengan tak terkendalikan, ia melangkah selangkah mendekatinya. Lalu ia
melihat Hollis Meynell. Wanita itu berdiri hampir tepat di belakang
gadis tadi, seorang wanita berusia jauh di atas 40, rambutnya yang
beruban dimasukkan di bawah topi tua. Tubuhnya lebih dari gemuk;
pergelangan kakinya dijejalkan ke dalam sepatu hak rendah. Tapi, ia
mengenakan mawar merah pada kelepak kusut jaket coklatnya. Gadis
berpakaian hijau tadi telah bergegas pergi. Blandford merasa seakan
terbelah dia, begitu kuat hasratnya untuk mengikuti si gadis, tapi
begitu dalam kerinduaannya pada wanita yang jiwanya telah menemani dan
menjunjung jiwanya; dan wanita itu berdiri di depannya. Wajahnya yang
montok pucat terlihat lembut dan bijak; ia dapat melihatnya sekarang.
Mata kelabunya berkelip hangat dan ramah. Letnan Bladford tidak
ragu-ragu. Jarinya mencengkeram buku kecil Of Human Bondage yang
berkulit biru dan sudah usang, yang menjadi ciri-cirinya untuk si
wanita. Ini tak akan menjadi cinta, tapi akan menjadi sesuatu yang
berharga, sesuatu yang lebih langka daripada cinta-persahabatan yang
telah dan selalu akan disyukuri olehnya. Ia menegakkan bahunya yang
lebar, memberi hormat, dan menyodorkan buku itu pada si wanita,
meskipun selagi ia bicara, ia merasa kaget oleh kepahitan rasa
kecewanya.

"Saya Letnan John Blandford dan ibu… ibu adalah Bu Meynell. Saya
senang kita bisa bertemu. Bolehkah… bolehkah saya mengajak Ibu makan
malam?"

Wajah wanita itu melebarkan senyuman sabar. "Ibu tak tahu ini masalah
apa, nak," jawabnya. "wanita berbaju hijau - yang baru saja lewat -
memohon Ibu mengenakan mawar ini pada baju ibu. Dan katanya, kalau kamu
mengajak Ibu makan, Ibu harus memberi tahu, dia menunggumu di rumah
makan besar di seberang jalan. Katanya ini semacam ujian. Ibu sendiri
punya dua putra yang jadi tentara, jadi Ibu tak berkeberatan menolongmu.

Hadiah yang Lebih Berharga


Written on November 24, 2006 – 4:45 am | by otezz

Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika wanita muda berpenampilan menarik dan bertongkat putih itu dengan hati-hati menaiki tangga. Dia membayar sopir bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi, dia berjalan menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi dikatakan kosong oleh si sopir. Kemudian ia duduk, meletakkan tasnya dipangkuannya dan menyandarkan tongkatnya pada tungkainya.

Setahun sudah lewat sejak Susan, tiga puluh empat, menjadi buta. Gara-gara salah diagnosa dia kehilangan penglihatannya dan terlempar kedunia yang gelap gulita, penuh amarah, frustasi, dan rasa kasihan pada diri sendiri.

Sebagai wanita yang sangat independen, Susan merasa terkutuk oleh nasib mengerikan yang membuatnya kehilangan kemampuan, merasa tak berdaya, dan menjadi beban bagi semua orang di sekelilingnya.

“Bagaimana mungkin ini bisa terjadi padaku ?” dia bertanya-tanya, hatinya mengeras karena marah. Tetapi, betapa pun seringnya ia menangis atau menggerutu atau berdoa, dia mengerti kenyataan yang menyakitkan itu — penglihatannya takkan pernah pulih lagi.

Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu optimis. Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan berat yang menguras tenaga dan membuatnya frustasi. Dia menjadi sangat bergantung pada Mark, suaminya. Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai Susan dengan tulus.

Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya, dia melihat bagaimana Susan tenggelam dalam keputus asaan. Mark bertekat untuk membantunya menemukan kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang dibutuhkan Susan untuk menjadi mandiri lagi.

Latar belakang militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran yang paling sulit yang pernah dihadapinya.

Akhirnya, Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi, bagaimana dia akan bisa sampai ke kantornya? Dulu Susan biasa naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi ke kota sendirian. Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap hari, meskipun tempat kerja mereka terletak di pinggir kota yang berseberangan.

Mula-mula, kesepakatan itu membuat Susan nyaman dan Mark puas karena bisa melindungi istrinya yang buta, yang tidak yakin akan bisa melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun.

Tetapi, Mark segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru — membuat mereka terburu-buru, dan terlalu mahal. Susan harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan dalam hati. Tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu kepada Susan telah membuatnya merasa tidak enak. Susan masih sangat rapuh, masih sangat marah.

Bagaimana reaksinya nanti? Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar gagasan untuk naik bus lagi. “Aku buta !” tukasnya dengan pahit. “Bagaimana aku bisa tahu kemana aku pergi? Aku merasa kau akan meninggalkanku” Mark sedih mendengar kata-kata itu, tetapi ia tahu apa yang harus dilakukan. Dia berjanji bahwa setiap pagi dan sore, ia akan naik bus bersama Susan, selama masih diperlukan,sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri.

Dan itulah yang terjadi. Selama dua minggu penuh Mark, menggunakan seragam militer lengkap, mengawal Susan ke dan dari tempat kerja, setiap hari. Dia mengajari Susan bagaimana menggantungkan diri pada indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menemukan dimana ia berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Dia menolong Susan berkenalan dan berkawan dengan sopir-sopir bus dan menyisakan satu kursi kosong untuknya.

Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang tidak terlalu menyenangkan ketika Susan tersandung waktu turun dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh berkas di lorong bus. Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama, setelah itu Mark akan naik taksi ke kantornya.

Meskipun pengaturan itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang pertama, Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu naik bus tanpa dikawal. Mark percaya kepadanya, percaya kepada Susan yang dulu dikenalnya sebelum wanita itu kehilangan penglihatannya; wanita yang tidak pernah takut menghadapi tantangan apapun dan tidak akan pernah menyerah.

Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk melakukan perjalanan itu seorang diri.

Tibalah hari Senin. Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah menjadi kawannya satu bus dan sahabatnya yang terbaik. Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan, kesabaran dan cinta Mark. Dia mengucapkan selamat berpisah. Untuk pertama kalinya mereka pergi ke arah yang berlawanan.

Senin, Selasa, Rabu, Kamis…Setiap hari dijalaninya dengan sempurna. Belum pernah Susan merasa sepuas itu. Dia berhasil ! Dia mampu berangkat kerja tanpa dikawal. Pada hari Jum’at pagi,seperti biasa Susan naik bus ke tempat kerja. Ketika dia membayar ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata : “Wah,aku iri padamu”. Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya atau tidak. Lagipula, siapa yang bisa iri pada seorang wanita buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan keberanian untuk menjalani hidup?

Dengan penasaran, dia berkata kepada sopir itu, “Kenapa kau bilang kau iri kepadaku?” Sopir itu menjawab, “Kau pasti senang selalu dilindungi dan dijagai seperti itu”

Susan tidak mengerti apa maksud sopir itu. Sekali lagi dia bertanya, “Apa maksudmu ?” Kau tahu, minggu kemarin, setiap pagi ada seorang pria tampan berseragam militer berdiri di sudut jalan dan mengawasimu waktu kau turun dari bus. Dia memastikan bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu terus sampai kau masuk ke kantormu. Setelah itu dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala militer, lalu pergi. Kau wanita yang beruntung”,kata sopir itu.

Air mata bahagia membasahi pipi Susan. Karena meskipun secara fisik tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa memastikan kehadirannya. Dia beruntung, sangat beruntung, karena Mark memberikannya hadiah yang jauh lebih berharga daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya dengan matanya untuk menyakinkan diri — hadiah cinta yang bisa menjadi penerang dimanapun ada kegelapan.

Cinta dan Waktu


Written on November 24, 2006 – 4:41 am | by otezz

Alkisah di suatu
pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak: ada Cinta,
Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup
berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas
pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan
pulau itu.

Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta
sangat ke-b ingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai
perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. ementara
itu air makin naik membasahi kaki Cinta. Tak lama Cinta melihat
Kekayaan sedang mengayuh perahu. "Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!"
teriak Cinta. "Aduh! Maaf, Cinta!" kata Kekayaan, "perahuku telah penuh
dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini
tenggelam.

Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini." Lalu Kakayaan
cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali, namun
kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. "Kegembiraan!
Tolong aku!", teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia
menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta.

Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin
panik. Tak lama lewatlah Kecantikan. "Kecantikan! Bawalah aku
bersamamu!", teriak Cinta. "Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak
bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini."
sahut Kecantikan. Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis
terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan. "Oh, Kesedihan, bawalah aku
bersamamu," kata Cinta. "Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin
sendirian saja…" kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.
Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan
menenggelamkannya.

Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, "Cinta! Mari cepat
naik ke perahuku!" Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang
tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat
sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, orang tua itu
menurunkan Cinta dan segera pergi lagi.

Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui
siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya
kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua
itu. "Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu." kata orang itu. "Tapi,
mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman
yang mengenalku pun enggan menolongku" tanya Cinta heran. "Sebab," kata
orang itu, "hanya Waktu lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari
Cinta itu …"

Cinta


Written on November 24, 2006 – 4:29 am | by otezz

Seorang pria dan
kekasihnya menikah dan acaranya pernikahannya sungguh megah. Semua
kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari
yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan.

Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria
dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju
mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.

Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, "Sayang,
aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat
tali pernikahan" katanya sambil menyodorkan majalah tersebut.

"Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari
pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal
tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia….."

Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya
yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika
pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk
kebaikkan mereka bersama. Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar
dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.

Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya. "Aku akan
mulai duluan ya", kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya.
Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman… Ketika ia mulai
membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia
memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir…..

"Maaf, apakah aku harus berhenti ?" tanyanya.

"Oh tidak, lanjutkan…" jawab suaminya.

Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu
kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan
bahagia "Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu".

Dengan suara perlahan suaminya berkata "Aku tidak mencatat sesuatupun
di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak
ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik
bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang…. "

Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta
serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya… Ia
menunduk dan menangis…..

Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depressi, dan
sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan
hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan
pengharapan.

Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk,
mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal
yang indah di sekeliling kita ? Saya percaya kita akan menjadi orang
yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal
yang baik dan mencoba melupakan yang buruk

Apakah Cinta itu?


Written on November 24, 2006 – 4:24 am | by otezz

Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab,
Mereka yang bermain dengannya, menyebutnya sebuah permainan,
Mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian,
Mereka yang mencintai, menyebutnya takdir.

Kadang Tuhan yang mengetahui yang terbaik, akan memberi kesusahan untuk
menguji kita. Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya bisa
tertanam dalam.

Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan di baliknya. Alasan
yang kadang sulit untuk dimengerti, namun kita tetap harus percaya
bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih
baik.

Mengapa menunggu?
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan, kita tidak ingin tergesa-gesa.
Karena walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tidak ingin sembrono.
Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai,
kita tidak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses pencarian itu.

Jika ingin berlari, belajarlah berjalan duhulu,
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.

Pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang kita inginkan, ketimbang memilih apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat, Karena hidup ini terlampau
singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah, karena menunggu
mempunyai tujuan yang mulia dan misterius.

Perlu kau ketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,
Kota Roma tidak dibangun dalam sehari,
Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan,
Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan.

Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama, Dan penantian kita tidaklah sia-sia.

Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal - iman, keberanian, dan
pengharapan - penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat
seorangpun bayangkan.